20 Mei 2011

Nak, Urungkan Niatmu Jadi Sarjana...

Oleh Daus KOMPAS.com

"Maafkan aku, Nak,
ya. Urungkan
niatmu untuk
menjadi sarjana. Ayah tidak sanggup
menyediakan uang sebesar itu
dalam waktu sekejap."
Kata itu mungkin yang sering
muncul dari seorang ayah yang
anaknya diterima menjadi
mahasiswa jalur undangan
perguruan tinggi negeri (PTN). Dulu,
jalur ini dikenal dengan penelusuran
minat dan kemampuan, atau kerap
disingkat PMDK.
Bagaimana tidak, seorang teman di
Facebook, Coen Husain Pontoh,
menuliskan keluh kesahnya di
statusnya. "Keponakan saya
keterima di salah satu universitas
terkemuka di Pulau Jawa melalui
jalur "undangan". Tapi, untuk bisa
masuk kuliah, ia pertama kali harus
bayar Rp 40 juta kontan," tulisnya.
"Kampusnya terkenal sebagai
kampus rakyat, namanya: Universitas
Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta,"
tulisnya di http://
www.facebook.com/home.php#!/
coenhusainpontoh/
posts/10150185073318500.
Bayangkan, orangtua yang gajinya di
atas upah minimum, katakanlah Rp
2,5 juta per bulan, belum tentu bisa
menyediakan uang sebesar itu
dalam waktu singkat. Kecuali, kalau
orangtua itu nyambi korupsi
tentunya. Padahal, upah minimum
seorang buruh atau karyawan/
karyawati di Jakarta berkisar Rp 1,2
juta.
Pada situs Pemprov DKI Jakarta
tertanggal 29 November 2010
diberitakan bahwa upah minimum
DKI Jakarta (UMP/UMR DKI Jakarta)
tahun 2011 ditetapkan sebesar Rp
1.290.000 per bulan per orang. Apa
ini artinya? Artinya, jika kita anak
seorang buruh yang gajinya sesuai
dengan upah minimum atau dua
kalinya upah minimum yang
ditetapkan pemerintah, kita dilarang
untuk menjadi mahasiswa.
Kampus hanya untuk orang kaya.
Orang miskin dilarang masuk
kampus untuk belajar. Yang boleh
belajar di kampus adalah orang-
orang kaya. Sementara jika
pendidikan tinggi adalah salah satu
pintu masuk untuk mengubah
kehidupan agar lebih baik, pintu itu
sekarang sudah perlahan-lahan
ditutup.
Yang kaya makin kaya dan yang
miskin tetaplah miskin. Tak peduli di
negeri yang mengklaim berdasarkan
Pancasila, yang berdasarkan
Ketuhanan, Kemanusiaan, dan
Keadilan Sosial. Yang jelas di negeri
ini anak orang miskin silakan minggir
dari pendidikan tinggi.
"Salah sendiri lu miskin, orang
miskin, enyah aja lu".
Mungkin, itu kata-kata yang muncul
di pikiran, hati, dan lisan para
petinggi negeri ini, yang
membiarkan komersialisasi
pendidikan semakin menggila.
Nak, urungkan niatmu jadi sarjana
ya….
Sudah jangan menangis terus,
Nak….
Mungkin kita hidup di negeri yang
salah.…
Di negeri yang menganggap orang-
orang miskin hanya sekadar angka,
bukan warga negara….

Penulis adalah anggota
Kompasiana

Editor: Latief Sumber :
Kompasiana